Yg saya tulis disini hanya sebagian dari isi kepala saya yg seorang manusia biasa, bukan manusia intelektual tinggi apalagi spriritualnya.
surga, pahala, dan surga (lagi) itu saja kata-kata yg sudah hampir bosan aku dengar dalam tiap ceramah yg kuikuti mulai sejak kanak-kanak, jadi seolah-olah manusia itu beribadah bukan karena percaya dan takut kepada penciptanya melainkan karena ‘ngarep’ dan takut pada neraka. Secara logika saya, andaikan kita ini adalah babu dan Tuhan itu majikan, tentulah kita akan lebih hormat pada beliau daripada takut pada ruangan penyiksaan (neraka) miliknya ataupun berharap-harap dapat masuk dalam vila (surga) nya. Tapi ah sudahlah kayaknya manusia Indonesia selalu diiming-imingi dengan dongeng2 pengantar tidur tentang surga dan segala macam kenikmatannya, bahkan dengan amal yg sekali setahun dengan sombongnya dilaksanakan (lagi2 mengharap ‘surga’) misalnya tiba2 jadi dermawan menyumbang sedekah sekian puluh juta lalu digembargemborkan di media masa atau tiba2 sok rajin datang ke tempat ibadah kalau pas bulan tertentu sih! Kalau sudah selesai ya say goodbye sama tempat ibadahnya, malahan ibadahnya belum tentu serajin dulu. Lalu ada lagi sebagian kelompok agamais yg sok menganggap bahwa mereka lebih baik dari sesama saudara seiman mereka yg tidak sealiran, lantas mengkafirkan mereka, tingkahnya lebih brutal dari preman ngamuk sekalipun, ngeri! Emangnya saya mau bertetangga sama mereka2 yg tidak menghargai hidup dan sesamanya walaupun tidak seakidah? Saya sungguh bosan dengan lagu2 nina bobo tentang surga yg selalu dikoar-koarkan para orang ‘ahli agama’ itu, seakan-akan lagu ‘jika surga dan neraka tak pernah ada’ yg dinyanyikan alm. Chrisye ada benarnya juga, akan jadi sekeji apa manusia kalau saja Tuhan tidak menciptakan kedua tempat tersebut, sungguh ironis! Bah! Mulai sekarang aku hanya beribadah karena takut sama Dia, soal pahala sudah tidak kupikirkan lagi selama semua yg kulakukan diterima olehNYA.
intermezzo————————————————————————-
Kamu boleh merasa lebih tahu pergaulan daripada saya, lebih dewasa, lebih arif, lebih bijak, dan lebih-lebih lainnya, tapi selama ini dalam masyarakat saya melihat bahwa yang paling pertama mereka lihat adalah penampilan, diamini sebagai hal paling penting atau tidak pun dalam hati kita, tetap saja melihat penampilan seseorang akan menentukan mood kita kedepannya dalam menghadapi orang baru. Saya sudah banyak menikmati diacuhkan, dipandang dengan sebelah mata, malah dianggap aneh oleh masyarakat, dengan penampilan saya yg tidak gaul dan kurang funky. Adalah benar suatu kalimat yg berbunyi ‘kau akan kami terima kalau bertingkah laku seperti kami’ ada semacam rahasia umum kalau seseorang yg beda dari lingkungannya, melawan arus akan diasumsikan sebagai antisosial di lingkungannya.

